Sebuah Harapan
Kalau kita kecewa, marah, dan memiliki emosi negatif lainya. Mungkin kita sedang dihadapkan dengan harapan yang tidak pada tempatnya. Harapan tempat yang salah terus menciptakan emosi emosi negatif, sebab emosi itu adalah manifetasi dari harapan yang tak sesuai.
Seni menjaga hati itu perlu, menjaga untuk tetap di Jalan Nya agar tak membuat gaduh emosi. Sudah sampai posisi ini masih saja diri dibuat dengan emosinya sendiri, tidak ada kontrol untuk menahan atau melepas. Suatu hari sempat bicara dengan atasan,
'Kita tak akan mampu urus banyak hal, semua sudah pada porsinya masing masing jadi jangan pernah mengambil porsi orang lain, cukup kita tahu saja atau kalau enggak bisa nahan ya lebih baik nggak usah tahu itu lebih baik daripada memaksakan hal yang diluar porsi kita. Jangan mengenggam hal yang akan membuat beban diri, lepas dan pasrahkan saja sama Allah. Kalau tahu arti pasrah yang sesuangguhnya adalah melepaskan se ikhlas ikhlasnya yang bukan porsi kita. Bahkan persoalan rezeki pada satu butir nasi bila bukan milik kita tak kan pernah sampai di mulut kita. Permasalahnya bukan pada seberani apa kita menghadapi persoalan tapi seberani apa kita melepaskan.'
Bagaimana lagi aku harus berkata, sebagaimana manusia berjuang dan menginginkan bilamana bukan untuknya, tetap diminta kembali pada pemiliknya. Sebuah harapan, tentang cinta yang datang dan pergi. Sebuah hati yang tak kunjung singgah selamanya, dan harapan yang tidak pada tempatnya.
