Jumat, 05 Maret 2021

Disetiap kaki melangkah dan perjalanan yang telah terlewat, lama dan sunyi. Sendiri dan berusaha mengerti arti makna diri. Tak banyak yang bisa dilakukan untuk menyibukkan diri agar terus bertumbuh selayaknya manusia diumurnya. Terkadang manusia suka sekali membandingkan tentang umur dan sikap yang ia cerminkan pada manusia lain. Mendengarkan musik dengan hentakkan yang keras agar emosi dalam mencurahkan tulisan tampak menggebu. Memaksa pikiran untuk menuangkan banyaknya perasaan yang tak kunjung selesai. Konon yang pernah saya baca, setiap detik manusia menghasilkan 60.000 pikirannnya sendiri. Entah bagaimana penyataan itu dikeluarkan, tapi sepertinya benar. Menulis sangat membutuhkan energi positif untuk menuangkan dalam tulisan. 

Perihal mengagumi dan mencintai; kali ini saya memilih untuk mencintai diri saya sendiri. Seni mencintai diri sendiri membutuhkan waktu selama dua tahun lamanya bagi saya untuk memahami apa yang saya butuhkan, apa yang saya inginkan. Berdamai dengan masa lalu yang sulit. Tidak akan ada yang bisa menyakiti saya ketika saya sudah menerima saya. Menerima dan menghargai; Apresiasi diri dengan nada lembut membuat pikiran saya sedikit tenang. Mengerti bagaimana menghadapi setiap takdir kehidupan. Ketika saya sedih yang selalu saya ingat hanya kata kata Angkasa yang langsung terputar seperti nada dering ponsel yang dengan cepat menyala ketika panggilan masuk, " Jangan sedih, ikuti takdirmu semua ada waktunya" Begitu katanya. 

Mengaku dewasa akan diuji akan kedewasaaanya, mengaku sabar akan diuji akan kesabarannya. Dunia tempat ujian, merintih dan kesakitan. Jika kita sedang merasakannya, berbahagialah kamu masih hidup di dunia. Saya membaca tentang rasa syukur terhadap apapun yang terjadi. Rasa syukur adalah bagian dari bentuk kebahagiaan. Hubungan percintaan; yang selalu berakhir dengan kemarahan, kesedihan dan kecemasan mendalam membuat saya sadar. Sadar atas apa arti bahagia. Saya kira perasaan saja cukup untuk menjalin sebuah ikatan, tetapi bukan. Memaksa bertahan tak ada gunanya lagi dalam hal ini, karena akan menjadi saling yang menyakiti.   

Saya melepas semua ikatan, ikatan yang membelenggu saya. Semua dendam yang ingin saya buktikan. Saya ingin bahagia atas diri saya sendiri. Saya telah bebas. Saya bahagia. Saya kira dengan membuktikan saya bisa mendapat pengakuan, membalaskan dendam saya dan berbangga diri atas pencapaian saya. Ternyata semua itu tak ada gunannya dan membuang energi positif saya setiap harinya. Hari ini saya berbahagia, melepas segala hal dan mengikuti takdir saya dengan bersemangat. Tidak ada kesedihan melainkan berjuang untuk takdir takdir berikutnya yang akan berdatangan. 


Kamu sudah bahagia sampai detik ini, kasihanilah dirimu sebelum mengkasihani orang lain.  

Σελήνη . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates