Jumat, 06 Desember 2019

"Apa apa itu dari pikiran, kamu aja negatif  terus"

"Gausah ngeluh, nikmati aja"

"Masih banyak yang lebih susah dari kamu, udah deh"

"Capek terus, kapan semangatnya."

Manusia, hanya manusia. Makan seporsi saja kadang tidak habis, apalagi menjalani hidup yang terus menerus diberi dan harus habis untuk diselesaikan. Mulai sekarang pahami apa yang sedang mereka alami, yang mereka rasakan dan bukan karena penasaran. Terkadang perkataan pendek itu selalu terdengar di tukak daun telingga yang masuk sampai gendang dan terproses pada otak sebelah kiri. Maaf, bukan aku serba tahu. Tapi jika aku diperlakukan seperti itu pun juga tidak ingin. Kalau ada pilihan permintaan di dunia ini, mungkin aku hanya meminta satu. 

"Aku memintamu, untuk mendengarkan aku saat aku berbicara."

Sekarang ini, rasanya populasi pendengar sudah mulai menipis. Kebanyakan orang ingin terlihat dan dilihat, dan tidak lupa untuk diperhatikan. Mungkin aku terlihat mudah untuk berteman dengan siapa saja, bahkan dalam sekedipan mata pun aku bisa berteman dengannya. Tetapi yang sebenarnya, adalag aku yang selalu memilah teman yang ada di circle pertemanan. Karena sebagian dari teman hanya teman sapaan, teman ketawa, atau sekedar tersenyum jika lewat. Bukan itu pertemanan yang sebenarnya, yang sebenarnya teman adalah mereka yang selalu hadir dalam setiap proses kita menuju diri kita sendiri. Mencapai apa yang ingin kita capai, dan mendukung segala pilihan. Bersusah payah bersama, dan menjalaninya dengan bahagia. Benar, bahagia. Kebahagiaanku, ada pada senyum yang tergantung lebar pada sekawananku. Mereka yang tersenyum adalah kekuatan terbesarku, kekuatan paling aku syukuri yang ada di dunia. Dunia yang semakin kejam tetapi masih ada orang orang yang mau berjuang dalam citaku.

Aku selalu mengatakan pada sekawananku, bahwa aku selalu ada. Mendengarkanmu, keluh kesahmu. Jangan malu ketika kamu mengeluh. Karena keluhmu adalah tanda juangmu saat ini. Ketika kamu tidak mengeluh itulah kamu yang sedang santai dan tidak merasa sedang pada tekanan sehingga tidak mampu mengeluh. Keluhkan saja, akan aku dengarkan sampai bait bait keluhmu habis bahkan aku akan menemanimu. Begitu kataku.

Dari sini, aku mulai memahami. Bahwa dunia adalah tempat berkeluh kesah, karena kita dituntut untuk berjuang mati matian untuk tetap hidup di kehidupan semesta yang tidak bekerja untuk diri kita. Semesta tidak pernah menakdirkan kita untuk hidup tanpa daya juang yang tinggi. Mulai sekarang, dengarlah seseorang jika ia ingin didengar. Jangan menjatuhkan, apalagi mengejek bahwa ia selalu mengeluh. Beruntunglah kalian jika saja menjadi orang terpercaya untuk mendengarkan semua itu, karena mereka pula memiliki hak untuk memilih siapa yang berhak mendengarkan keluh dan kesahnya.


Mungkin benar jika ada sebagian orang, yang ketika ia letih, lelah, penat tidak berkeluh kesah karena ia telah bahagia pada yang sedang ia kerjakan. Tetapi jangan bandingkan diri yang seperti itu pada sebagian yang lain. Masing masing orang itu, memiliki porsi yang berbeda. Porsi yang terkadang tidak habis, atau porsi yang pula ingin ditambah.


Kita ini manusia, apa yang kita lakukan berdasarkan hati nurarni dan logika yang kadang juga mengikuti kata hati. Tegas itu perlu dalam menyikapi, tetapi hati selalu benar dalam berkata.



Σελήνη . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates