Kamis, 07 November 2019

Hari ini, tepat dimana bulan bulan kritis lima tahun lalu. 

November, ceria. 
berawal kisah dua gadis kecil yang tidak tahu kondisi mama tercintanya sedang tidak pada kondisi yang baik saja saat itu. Aku yang saat itu masih duduk pada bangku SMA dan adik ku yang juga masih duduk pada bangku SMP. Aku dan adikku yang tidak tahu itu tiba tiba merasa curiga akan kondisi mama. Terucaplah kalimat tanya dari sekian pertanyaan setiap malam ketika kami akan tidur. 

Aku : Mama kenapa ? Setiap malam mama suka keluar sama papa, terus pulang besok hari ?
Mama : Mama ga papa mbak, doakan aja ya semoga selalu sehat. 

Begitu katanya setiap kami bertanya tanya saat keadaan yang mulai genting itu. Sampai akhirnya aku harus bertanya pada papa yang saat itu terlihat sekali muka muram dan begitu gelisah. Kemudian setelah itu papa menjawab segala hal yang menjadi pertanyaan kami, pertanyaan sebelum tidur kami, dan pertanyaan yang tidak pernah ada jawaban pasti. Setelah kami tahu, benar saja itu akan terjadi. Aku tidak sama sekali tinggal diam, aku dengan keberanianku yang selama ini sudah tidak lagi bisa aku tahan pada rongga bibir yang terus ingin berucap. Aku dan adik, serta papa sepakat bahwa kami akan memberitahu semua ini pada orang tua mama, umi tercintaku. 

Sesampai di umi, semua yang ingin kami sampaikan telah tersampaikan jelas pada umi melalui rangkaian kata papa yang lembut itu. Umi pun menangis tak tertahankan, bahkan pada saat itu juga mama diharuskan umi untuk melakukan operasi sebelum semuanya lebih parah terlebih ini adalah penyakit yang sudah tidak ada lagi obat penyembuh. Saat itu, umi dan abah datang kerumah, aku dan adikku yang saat itu memucat karena umi dan abah datang dengan keputusan yang di rasa berat sekali bagi mama. Ketakutan, kegelisahan, kesedihan bercampur aduk pada suatu kondisi yang kita tdak sama sekali bisa ketahui di sebelumnya. 

Berakhir sudah segalanya dengan mama tercintaku, mu melakukan operasi atas kemauan umi untuk mamaku yang segera selesai dengan penyakitnya ini. Operasi dilakukan di dokter bedah spesialis dengan segala gelar yang sangat panjang itu. Aku percaya pada beliau, entahlah karena mungkin saat itu aku masih kecil sekali, dengan melihat gelar pun langsung percaya saja. Operasi berlangsung di satu har penuh, aku tidak ingat bagaimana teknisnya. Hanya yng aku ingat, mamaku merintih kesakitan karena hanya dilakukan bius lokal. Sedang penyakit yang ia idap tidak lah mudah untuk dikondisikan. Hal ini dilakukan karena ketika dilakukan bius total akan ad syaraf dn akar yang belum sepenuhnya terangkat. Kesakitan demi kesakitan dialamu oleh mama di hari itu. Dan di hari itu, mama pun pulang dengan menangis. 

Operasi dilakukan saat aku sedang ujian akhir sekolah saat itu, aku mendapat telepon dari nomor tidak dikenal, yang memberitahu bahwa mamaku sedang dalam masa operasi. Aku menangis tak terkira di sekolah, aku pulang dengan sendu dan gundah. Bagaimana keadaannya saat itu. teman teman ku mencoba menenangkanku dan tetap saja aku tidak pernah tenang. 

Tangisan mama membuatku hancur saat itu, aku pun tidak tahu harus bagaimana. Sedang dari kejadin hari itu entah mengapa aku merasa bahwa mamaku yang selalu kucinta adalah wanita super. Aku ingin menjadi sepertinya. Tidak lama dari kejadian hari itu, benar aku benar benar menjadi seperti mama. Mulai harus merawat rumah, papa, adik, dan mamaku sendiri. Bukan kami tidak memiliki saudara, hanya saja kami tidak ingin merepotkan semua orang. Biar saja jatuh dan bangun kami lakukan dengan ikhlas sepenuh hati. Aku senang melakukan semua hal itu, aku yang bodoh menjadi sedikit tidak bodoh dalam mengurus waktu. Aku berdiri tegak demi senyuman tetap melebar pada kepak bibir mamaku, membuat riuh rumah, tingkah konyol dan segala hal. Aku merawat mama sampai aku lupa merawat diriku sendiri saat itu. 

Tahun kedua aku di bangku SMA, teman teman ku tidak ada yang tahu selain shafira dan ratna. Sahabat karib yang selalu tahu apapun masalahku. Ibu mereka pun tahu, karena aku pun dekat dengan keluarganya. Aku selalu diberi bekal oleh ibu teman temanku untuk makan siang, jujur aku bukan tidak punya uang saat itu, tapi aku sangat rindu masakan mama. Posisi mama benar aku tidak bisa menganti saat masalah masak dan makan. Teman masa sulitku, mulai dari tempaan musuh untuk saling bersaing nilai dan aku harus membagi waktu untuk merawat orang tuaku. Aku tidak fokus dan sangat tidak bisa membagi waktu untukku sendiri. Saat itu, papa pun selalu mendampingi mama, selalu membersamai, dan segela hal untuknya. 

Papa sendiri berkorban banyak dan tidak pernh lelah untuk berdoa dan bertawakkal. Tidak pernah papa mengeluh untuk ini bahkan papa sendiri yang selalu memberikan mama support lahiriah dan batiniah. Aku yang selalu kuat karena papaku yang berkata, 

Papa : Semua ini, ujian dari Allah SWT kita semua harus kuat dan tetap bertawakal. Ikhtiar kita dengan berusaha semaksimal mungkin, support mama terus dan selalu disemangati.

Begitu katanya, pada lima tahun lalu.Aku yang sudah bukan lagi anak kecil mencari tahu apa apa saja yang menjadi mama seperti ini. Aku mulai mencoba hidup sehat dengan segala tingkah lakunya. Dan menerapkannya di kehidupan rumah, mencoba untuk tenang dan menghadapi situasi yang genting. 

Hal yang ku tahu adalah, jika ada orang mengidap penyakit itu. Ia tidak boleh lelah pikiran, dan fisik. Bahkan ia harus selalu bahagia. Itu yang aku tahu sejak kecil. 

Σελήνη . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates